Jumat, 08 April 2011

AKIDAH TAUHIDULLAH PRINSIP SCIENCE


Tugas 3 (smester 1)
Nama  : Leni Herlina
Kelas   : I-B
Nim     : 1210 600 051

AKIDAH TAUHIDULLAH PRINSIP SCIENCE

            Di antara segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai sebagai ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu dalam Al-Qur’an sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern. Teori Al-Qur’an itu sama sekali tidak bertentangan dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Dari segi kemukjizatan ini Al-Qur’an telah menunjuk salah satu firman Allah;
Artinya:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
(QS. Fussilat ayat 53)
            Berdasarkan keyakinan kita, bahwa Al-Qur’an yang besar itu bukanlah kitab ilmu alam, arsitek dan fisika, tetapi Al-Qur’an adalah kitab petunjuk atau pembimbing dan kitab undang-undang dan perbaikan. Namun demikian, ayat-ayatnya tidak terlepas dari petunjuk-petunjuk yang detail kebenaran-kebenaran yang samar terhadap beberapa masalah alami, kedokteran dan geografi, yang kesemuanya menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an serta kedudukannya sebagai wahyu Allah. Yang pasti bahwa Muhammad Saw. adalah seorang ummi tidak bisa membaca dan menulis. Ia lahir dalam lingkungan yang jauh dari kebudayaan di mana tidak didapat ilmu pengetahuan dan seolah-olah tempat yang diajarkannya ilmu pengetahuan umum, karena bangsa dan keluarganya semuanya orang-

orang ummi. Di samping itu, teori-teori ilmiah yang diberitahukan Al-Qur’an pa masa itu belum dikenal dan ilmu pengetahuan modern pun belum menemukan rahasia-rahasianya dan menemukannya baru-baru ini.
            Itu adalah bukti yang sangat jelas bahwa Al-Qur’an bukan ciptaan Muhammad Saw tidak seperti apa yang diduga golongan orientalis, sesungguhnya Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah, diturunkan kepada hati seorang pemimpin utusan dengan bahasa Arab yang kuat.
            Ustadz Thabbarah dalam kitabnya Ruhud Dinil Islam telah membahas masalah ini dengan baik, dan ia menguraikan sebagian kebenaran-kebenaran ilmiah, dengan terperinci.
            Beberapa ilmuwan Barat membayangkan bahwa Tuhan hanya memberikan suatu kekuatan awal sebagai perangsang pada dunia, dan selanjutnya Ia tidak lagi berhubungan apa-apa dengannya. Dunia sendirilah, dengan bekal kekuatan itu, yang menyebabkan gerakan-gerakan dan perkembangan lain di dunia benda dan secara berangsur-angsur menimbulkan berbagai fenomena.
            Sebagian lainnya membayangkan gerakan dunia alam sebagai dinamis. Apabila dalam cara pikir pertama di atas, Tuhan dianggap sebagai pencipta kekuatan dalam dunia alam, maka dalam cara pikir ini, hanyalah keberadaan alam yang diatribukan kepada Allah (SWT), sedang perkembangan dunia diatributkan pada gerakan dinamis benda sendiri. Orang-orang ini sebenarnya telah menerima pandangan materialisme dialektis. Mereka memandang perkembangan dunia sebagai perkembangan dinamis. Semata-mata untuk memberikan warna Islami, mereka mengatakan, “Hakikat benda telah diciptakan Tuhan, tetapi Ia tidak berperan lagi di dalamnya. Perkembangan benda serta munculnya fenomena yang semakin baru adalah akibat dari perkembangan dinamis alam itu sendiri, dan dunialah, melalui gerakan alaminya, yang berangsur-angsur mengadakan perubahan-perubahan dan menciptakan fenomena. Fenomena kehidupan pun menjadi ada di dunia secara berangsur-angsur, dan berevolusi menjadi berbagai hewan, sampai mencapai tahap manusia.” (Ini sama dengan yang diilustrasikan oleh Teori Evolusi).
            Cara pikir ini sama sekali berbeda dengan pandangan Islam. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa Allah Yang Mahakuasa terlibat dalam penciptaan, dan bahwa tak ada wujud, di waktu mana pun, yang tak memerlukan Allah. Untuk menolak pandangan tentang gerakan dinamis itu, kita mulai dengan alasan-alasan yang paling sederhana, yang mudah dipahami, dicerna dan diserap. Dengan ungkapan sederhana, yang tidak memerlukan fondasi-fondasi filosofis yang rumit, kami mengatakan bahwa gerakan dinamis—misalkan ia berada pada hakikat alam dan dapat dijelaskan dan diterima dalam suatu cara—yang mungkin menyebabkan munculnya suatu wujud hidup baru. Karena, sebagaimana gerakan mekanis tak lain pengalihan dari suatu obyek dari suatu tempat ke tempat lain, gerakan dinamis juga tak lain dari perkembangan alami dari benda itu sendiri dan tak mungkin menciptakan suatu wujud baru yang tidak termasuk kategori benda dan material itu dan yang belum berada dalam benda itu sebelumnya pula, walaupun ia dapat menciptakan perkembangan dalam benda mati.
            Kita melihat secara konstan bahwa makhluk hidup menjadi ada di dunia dan mempunyai kecerdasan, indera, emosi, dan—dalam kasus manusia—memiliki inisiatif, kemauan bebas, dan kreativitas, sifat-sifat mana tak dapat diatributkan pada benda. Bahkan, para materialis sendiri mengakui bahwa akal dan kemampuan berkehendak bukanlah hal material dan tidak mempunyai sifat benda. Tetapi, untuk membenarkan pendapatnya, mereka berkata: “Sifat-sifat ini diadakan oleh benda sendiri dan sebagai akibat perkembangan benda”—pandangan yang berarti munculnya suatu wujud hidup tanpa penyebab dan tanpa pencipta.
            Maka, munculnya fenomena kehidupan, baik hewan maupun manusia, yang terjadi di dunia ini secara berkelanjutan bahwa suatu pencipta terus-menerus memberikan kehidupan kepada makhluk-makhluk itu dan menciptakannya, dan bahwa itu tidak hanya sekali melainkan dalam berbagai tahap. Misalnya, manusia. Walaupun mempunyai jiwa, tetapi ia tidak mempunyai sekali penciptaan. Al-Qur’an mengatakan: “… Dia menciptakan kamu dalam perut ibumu penciptaan demi penciptaan …” (QS. 39:6)
            Ketika manusia memasuki rahim ibu, penciptaan pun dimulai; ketika ia berubah menjadi ‘alaqah (gumpalan darah), ia mendapatkan bagian baru kehidupan yang tak dipunyainya sebelumnya. Keberadaan bagian baru kehidupan ini memerlukan pencipta, karena sperma sendiri tidak mengandung kesempurnaan-kesempurnaan ‘alaqah, tidak pula dapat menciptakan kesempurnaan-kesempurnaan itu. Kesempurnaan-kesempurnaan itu diberikan kepadanya oleh Pencipta. Al-Qur’an mengatakan, :
“Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. 39:14)
            Setiap perkembangan yang ia dapatkan, dan setiap bagian baru kehidupan yang ia dapatkan, adalah suatu ciptaan baru yang dianugerahkan Allah kepadanya. Penciptaan hakikat benda tidaklah cukup bagi penciptaan kesempurnaan-kesempurnaan baru kehidupan ini. Dalam hal ini, tak ada perbedaan antara manusia, hewan, dan tumbuhan.
            Benih tumbuhan, apabila ditempatkan di tanah, ia pun menyerap air, dan efek fisikal dan kimiawi berkembang di dalamnya. Tetapi ketika benih itu mulai tumbuh, merentangkan akar ke dalam bumi dan menyembulkan pucuk ke atas, ia telah mendapat bagian-bagian baru kehidupan dan keberadaan yang tak dipunyainya sebelumnya. Efek-efek ini tidak terdapat pada benih yang mati, dan gerakan dinamis tak dapat menciptakan gerakan tumbuhan itu. Kemudian ia tumbuh, berbatang, bercabang, dan berdaun. Ini pun mempunyai kehidupan baru. Ini berlaku juga pada tahap berkuncup, berbunga, munculnya warna-warna yang indah dan menakjubkan dan bau yang harum. Menjelang munculnya buah, masing-masing beroleh suatu ciptaan baru yang diberikan oleh Pencipta. Untuk bergerak selanjutnya, bahkan wujud-wujud yang perkembangan barunya tidak  nampak dan yang dikira mempunyai keberadaan monoton, harus menerima keberadaannya dari Pencipta pada setiap saat.
            Apabila kita mendapatkan pengetahuan sedemikian tentang Allah Yang Mahakuasa maka saat itulah kita dapat menerima, mengakui dan beriman akan adanya tangan Allah dalam semua keberadaan dan semua keadaan. Tetapi, pandangan yang mengatakan, “Tuhan menciptakan benda, tetapi kemudian gerakan otomatis dari benda itu yang menjadi sumber kemunculan wujud-wujud hidup,” tidak akan mungkin mendapatkan pengetahuan semacam itu tentang Tuhan. Orang yang berpegang pada pandangan seperti itu, memandang diri mereka sebagai telah dibiarkan sendiri di dunia, tanpa menyadari suatu kebutuhan akan Tuhan, dan tidak pula mengharapkan akan Tuhan, dan tidak pula mengharapkan suatu pertolongan dari Dia. Dalam pandangan mereka, Tuhan menciptakan suatu benda yang secara otomatis bergerak. Sedangkan menurut imajinasi mekanis, Tuhan memberikan gerakan primer kepada dunia ini dan tidak lagi mempunyai hubungan apa-apa dengannya, seperti arloji yang dibuat oleh pembuat arloji yang mahir, lalu disetel sedemikian rupa sehingga setelannya terus berlaku untuk selama-lamanya tanpa perlu disetel lagi.
            Itu bukan pandangan Islam. Ini bentuk syirik modern. Dalam pandangan Islam, keberadaan dunia terletak di tangan Allah pada setiap saat, untuk selama-lamanya; setiap wujud, dengan bagian keberadaan apa saja ia dianugerahi, dan tanda keberadaan apa saja yang mungkin diperolehnya, menerimanya dari Allah SWT dan memerlukan Dia, sehingga apabila Ia tidak menghendakinya maka seluruh dunia akan musnah. Dalam cara berpikir Islami, tak ada kekuatan selain kekuatan Allah Yang Mahakuasa yang mengatur dunia wujud. Kekuatan-kekuatan lain adalah percikan yang terbatas dan kekuasaan-Nya yang tak terbatas, berada dalam kekuasaan-Nya, dan hanya efektif dalam penciptaan sampai ke ukuran yang diberikan-Nya. Allah berfirman:
Dan (Dia menciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 7:54)
            Gerakan bulan dan bintang, bersinarnya matahari, tumbuhnya setiap tumbuhan, bahkan merekahnya setiap benih, atau sembuhnya orang sakit, semuanya bersama kehendak Allah dan takluk pada kehendak-Nya. Apabila Allah tidak menghendaki, tak ada wujud yang dapat melakukan sesuatu.
            Penganut pandangan Islami seperti itu tidak melekatkan nilai pada kekuatan apa pun selain Allah dan tidak membiarkan rasa takut memasuki hati mereka dalam menghadapi ancaman musuh-musuh Islam. Karena, mereka tahu bahwa bilamana ada suatu kekuatan, kekuatan itu berada di bawah kekuasaan dan kehendak Allah. Allah berfirman:
… Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya…” (QS. 12:21)
            Jiwa semacam itulah yang membuat mujahid Muslim di medan jihad demikian kuatnya sehingga ia tak takut pada apa pun, karena ia tahu bahwa,
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (Tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah?” (QS. 3:160)
            Orang yang telah dibesarkan dengan budaya semacam itu tidak menundukkan kepalanya kepada selain Allah. Baginya, segala sesuatu rendah dan tak berharga; yang berharga hanyalah yang berhubungan dengan sumber kekuatan, kebesaran dan kejayaan, yakni Allah, sebagaimana dikatakan Al-Qur’an,
… Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin...” (QS. 63:8)
            Kejayaan dan kebesaran adalah bagi Allah, rasul-rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, dan yang selainnya adalah hina dan rendah. Apabila ada kejayaan, adalah itu yang diberikan Allah, Dia telah menetapkan kejayaan ini, pertama-tama bagi kedudukan yang mulia dari Nabi Muhammad (saw); setelah beliau, orang yang dekat kepadanya, yang imannya besar dan yang hubungannya dengan-Nya kukuh.
            Dengan pandangan Islami inilah seorang Muslim memandang segala kekuatan alam sebagai bukan apa-apa di hadapan kekuasaan Ilahi yang tak terbatas. Ia merasakan kejayaan dan kebesaran itu dalam dirinya, sehingga membuatnya tangguh tak terkalahkan. Ia tahu bahwa kekuatan bukanlah sekadar kemampuan material, walaupun kekuatan material itu sendiri juga diciptakan Allah dan kekuasaan atasnya terletak di tangan Allah. Lebih dari itu, ada pula kekuatan adikodrati dan pertolongan Ilahi, yang juga berada di tangan Allah. Bilamana Ia menghendaki, air sungai Nil pun menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya; bilamana Ia menghendaki, satu seruan Ilahi dari langit pun menghancurkan dan memusnahkan suatu kaum. Karena itu, tauhid dalam penciptaan menghendaki agar manusia percaya bahwa setiap makhluk, dalam keadaan bagaimana pun, di mana pun dan kapan pun, memerlukan Allah dan tak akan pernah tidak membutuhkan-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

·         Taqi Muhammad, MONOTEISME: Tauhid sebagai Sistem Nilai dan Akidah Islam, Penerbit Lentera, Jakarta, 1996.
·         Mas’ud Ibnu, IAD: Ilmu Alamiah Dasar, Pustaka Setia, Bandung, 1998.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar