Jumat, 08 April 2011

MAKALAH “KEKUASAAN, WEWENANG, DAN KEPEMIMPINAN”

SOSIOANTROPOLOGI
MAKALAH
  “KEKUASAAN, WEWENANG, DAN KEPEMIMPINAN”

Tugas
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai tugas mandiri
Semester 1 dalam bidang sosioantropologi
Mahasiswa Psikologi
                                         

Disusun oleh :
Leni Herlina
I B - Psikologi
Nomor pokok : 1210 600 051

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
FAKULTAS PSIKOLOGI
BANDUNG
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami mengucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...






                                                                                                                           Penulis













DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………….
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1     Latar belakang ………………………………………………………………………
1.2     Rumusan masalah …………………………………………………………………..
BAB 11 KEKUASAAN, WEWENANG, PEMIMPINAN
2.1 pengertian ……………………………………………………………………………
2.1.1 kekuasaan ………………………………………………………………………
2.1.2 wewenang ……………………………………………………………………...
2.1.3 kepemimpinan …………………………………………………………………
2.2 kekuasaan ……………………………………………………………………………
2.2.1 sumber-sumber kekuasaan …………………………………………………….
2.2.2 unsur-unsur kekuasaan ………………………………………………………...
2.2.2.1 rasa takut ………………………………………………………………
2.2.2.2 rasa cinta ……………………………………………………………….
2.2.2.3 kepercayaan ……………………………………………………………
2.2.2.4 pemujaan ………………………………………………………………
2.2.3 cara-cara mempertahankan kekuasaan ………………………………………...
2.2.4 bentuk lapisan kekuasaan ……………………………………………………..
2.2.5 saluran kekuasaan ……………………………………………………………...
2.2.5.1 saluran militer ………………………………………………………….
2.2.5.2 saluran ekonomi ……………………………………………………….
2.2.5.3 saluran politik …………………………………………………………
2.2.5.4 saluran tradisi ………………………………………………………….
2.2.5.5 saluran ideology ……………………………………………………….
2.3 wewenang ……………………………………………………………………………
2.3.1 bentuk-bentuk wewenang ……………………………………………………...
2.3.1.1 wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional (legal) ………………
2.3.1.2 wewenang resmi dan tidak resmi ……………………………………...
2.3.1.3 wewenang pribadi dan territorial ………………………………………
2.3.1.4 wewenang terbatas dan menyeluruh …………………………………..
2.4 kepemimpinan (leadership) ………………………………………………………….
2.4.1 teori-teori kepemimpinan ……………………………………………………...
2.4.1.1 teori dengan pengaruh kekuasaan ……………………………………..
2.4.1.1.1 kekuasaan yang bersumber pada kedudukan ………………..
2.4.1.1.1.1 kekuasaan formal atau legal …………………….
2.4.1.1.1.2 kendali atas sumber dan ganjaran ……………….
2.4.1.1.1.3 kendali atas hukuman ……………………………
2.4.1.1.1.4 kendali atas informasi ……………………………
2.4.1.1.1.5 kendali ekologik (lingkungan) ………………….
2.4.1.1.2 kekuasaan yang bersumber pada kepribadiaan ……………..
2.4.1.1.2.1 keahlian atau keterampilan ……………………...
2.4.1.1.2.2 persahabatan atau kesetiaan ……………………..
2.4.1.1.2.3 karisma …………………………………………..
2.4.1.1.3 kekuasaan yang bersumber pada politik …………………….
2.4.1.1.3.1 kendali atas proses pembuatan keputusan ………
2.4.1.1.3.2 koalisi ……………………………………………………...
2.4.1.1.3.3 partisipasi ………………………………………………….
2.4.1.1.3.4 institusionalisasi …………………………………………...
2.4.1.2 teori bakat ………………………………………………………………
2.4.1.2.1 teori bakat menurut house ……………………………………
2.4.1.2.2 teori bakat menurut baas …………………………………….
 2.4.1.2.3 teori bakat menurut conger dan kanungo …………………...
2.4.1.2.4 teori transformasional dari Roberts ………………………….
2.4.1.3 teori perilaku …………………………………………………………...
2.4.1.3.1 teori perilaku menurut mintzberg ……………………………
2.4.1.3.2 teori perilaku menurut page …………………………………
2.4.1.4 teori situsional …………………………………………………………
2.4.1.4.1 perilaku pemimpin sebagai akibat situasi ……………………
2.4.1.4.1.1 teori peran (role theory) ………………………….
2.4.1.4.1.2 teori harapan (expentancy theory) ………………
2.4.1.4.1.3 teori adaptif-reaktif (adaptive-reactive theory) …
2.4.1.4.1.4 teori pilihan kendala (constraints choices model)..
2.4.1.4.2 perilaku pemimpin sebagai penyebab situasi ……………….
2.4.1.4.2.1 teori house dan Mitchell .………………………..
2.4.1.4.2.2 teori harsey dan Blanchard ……………………...
2.4.1.4.2.3 teori kerr dan jernier ……………………………..
2.4.1.4.2.4 teori vroom dan yetton …………………………..
2.4.1.4.2.5 teori fiedler ………………………………………
2.4.2 perkembangan kepemimpinan dan sifat-sifat seorang pemimpin …………….
2.4.3 kepemimpinan menurut ajaran tradisional …………………………………….
2.4.4 sandaran-sandaran kepemimpinan dan kepemimpinan yang efektif ………….
2.4.5 tugas seorang pemimpin ……………………………………………………….
2.4.6 metode kepemimpinan ………………………………………………………....   
BAB 111 KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan …………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA























BAB I
LATAR BELAKANG
1.1  Latar Belakang
Dalam ilmu sosiologi, kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, dimana pemimpin selalu ada dalam berbagai kelompok baik kelompok besar seperti pemerintahan maupun kelompok kecil seperti kelompok RT sampai kelompok ibu-ibu arisan.
Dari sekelompok individu dipilih salah satu yang mempunyai kelebihan di antara individu yang lain, dari hasil kesepakatan bersama, maka munculah seorang yang memimpin dan di sebut sebagai pemimpin. Kepemimpinan adalah perilaku seseorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama (hemphill dan Coons, 1957:7).
Dari kepemimpinan itu, maka munculah kekuasaan. kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya di dalam suatu hubungan social yang ada termasuk dengan kekuatan atau tanpa mengiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.
Seorang pemimpin mempunyai kekuasaan untuk mengatur dan mengarahkan anggota-anggotanya. Selain itu, pemimpin juga mempunyai wewenanga untuk memerintah anggotanya. Wewenang merupaka hak jabatan yang sah untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan dan grup.
Maka kepemimpinan tidak akan pernah lepas dari kekuasaan dan kewenangan untuk mengatur anggota-anggotanya. Dari makalah ini, penulis ingin menjelaskan bagaimana hakikat kepemimpinan, kekeuasaan, dan kewenangan yang sebenarnya karena dilihat masih banyaknya orang yang menjadi pemimpin namun menyalah gunakan kekuasaannya dan kewenangannya.
1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Pengertian dari kepemimpinan, kekuasaan, dan kewenangan?
2.      Sumber kekuasaan, dan cara mempertahankan kekuasaan?
3.      Sumber wewenang, dan bentuk-bentuk wewenang?
4.      Sifat dan tugas-tugas seorang pemimpin?

BAB 11
KEKUASAAN, KEWENANGAN, KEPEMIMPINAN
2.1 Pengertian
2.1.1 Kekuasaan
Definisi kekuasaan, manurut para ahli sosiologi, yaitu :
1.      Max weber, kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya di dalam suatu hubungan social yang ada termasuk dengan kekuatan atau tanpa mengiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.
2.      Selo soemardjan dan soelainan soemardi, menjelaskan bahwa adanya kekuasaan tergantung dari yang berkuasa dan yang dikuasai.
3.      Ralf dahrendorf, kekuasaan adalah milik kelompok, milik individu dari pada milik struktur social.
4.      Soerjono soekanto, kekuasaan diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut.
(Abdulsyani, 2007:136)
2.1.2 Wewenang
Definisi wewenang, menurut para ahli sosiologi, yaitu :
1.      George R.Terry, menjelaskan bahwa wewenang merupaka hak jabatan yang sah untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan dan grup.
2.      Mac Iver R.M, wewenang merupakan suatu hak yang didasarkan pada suatu pengaturan social, yang berfungsi untuk menetapkan kebijakan, keputusan, dan permasalahan penting dalam masyarakat.
3.      Soerjono Soekanto, bila orang-orang membicarakan tentang wewenang, maka yang dimaksud adalah hak yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.
4.      Max weber, wewenang adalah sebagai kekuasaan yang sah.
(Abdulsyani, 2007:144)
2.1.3 kepemimpinan
Definisi kepemimpinan, diantaranya :
1.      Kepemimpinan adalah perilaku seseorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama (hemphill dan Coons, 1957:7)
2.      Kepemimpinan adalah pengawalan dan pemeliharaan suatu struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411).
3.      Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu (Tannenbaum, Waschler, dan Massarik, 1961:24).  
2.2 Kekuasaan
2.2.1 Sumber-sumber Kekuasaan
Sumber-sumber kekuasaan yang dimiliki para penguasa atau pemimpin, dalam masyarakat informal maupun formal adalah :
1.      Seseorang yang mempunyai harta benda (kekayaan) yang lebih banyak, sehingga mempunyai keleluasan untuk bergerak dan mempengaruhi pihak lain.
2.      Dengan status tertentu, seseorang dapat memberikan pengaruhnya atau memaksa pihak lain supaya melakukan sesuatu sesuai kehendaknya.
3.      Wewenang legal atas dasar peraturan-peraturan formal (hukum) yang dimiliki seseorang, dapat memberikan kekuasaan pada seseorang untuk mempengaruhi pihak lain sesuai dengan hak dan kewajibannya sesuai dengan ketetapan dalam peraturan.
4.      Kekuasaan dalam pula tumbuh dari adanya kepercayaan khalayak, seperti tradisi, kesucian, dan adat istiadat.
5.      Kekuasaan yang tumbuh dari khrisma atau wibawa seseorang.
6.      Kekuasaan yang didasarkan pada pedelegasian wewenang.
7.      Kekuasaan yang tumbuh dari pendidikan, keahlian, serta kemampuan.
(Abdulsyani, 2007:140)   
2.2.1.1 Sumber kekuasaan dilihat dari anggota dan pemimpin
Sumber kekuasaan ditinjau dari hubungan anggota (target) dan pemimpin (agent), yaitu :
Kekuasaan ganjaran
Target taat agar ia mendapat ganjaran yang diyakininya, dikuasai, atau dikendalikan oleh Agent.
Kekuasaan koersif (pemaksaan)
Target taan agar ia terhindar dari hukuman yang diyakininya diatur oleh Agent.
Kekuasaan resmi (legitimate)
Target taat karena ia yakin bahwa Agent mempunyai hak untuk membuat keputusan atau peraturan. Bahwa Target mempunyai kewajiban untuk taat.
Kekuasaan keahlian (expert)
Target taat karena ia yakin atau percaya bahwa Agent mempunyai pengetahuan khusus tentang cara yang terbaik untuk melakukan sesuatu.
Kekuasaan rujukan
Target taat karena ia memuja Agent atau mengidentifikasikan dirinya dengan Agent dan mengharapkan persetujuan Agent
                                                                                                (Sarwono , 2001:45)
2.2.2 Unsur-unsur kekuasaan
2.2.2.1 Rasa takut
Perasaan takut pada seseorang (contohnya penguasa) menimbulkan suatu kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti tadi. Rasa takut merupakan perasaan negative, karena seseorang tunduk kepada orang lain dalam keadaan terpaksa.
Rasa takut juga menyebabkan orang yang bersangkutan meniru tindakan-tindakan orang yang ditakutinya.  Gejala ini dinamakan matched dependent behavior. Rasa takut biasanya berlaku dalam masyarakat yang mempunyai pemerintahan otoriter.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)
2.2.2.2 Rasa cinta
Rasa cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang pada umumnya positif. orang-orang lain bertindak Sesuai dengan pihak yang berkuasa, untuk menyenangkan semua pihak. Rasa cinta yang efisien dimulai dari pihak penguasa sehingga sistem kekuasaan akan dapat berjalan dengan baik dan teratur.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)   
2.2.2.3 Kepercayaan
Kepercayaan dapat timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua orang yang lebih atau bersifat asosiatif. Dari kepercayaan yang bersifat pribadi akan berkembang dalam suatu organisasi atau masyarakat secara luas. sehingga Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam suatu kekuasaan. Jika seorang pemimpin menaruh kepercayaan pada bawahanya, maka wajib bagi anak buahnya untuk patuh dan mempunyai sifat terpecaya.  Begitupun bagi pemimpinnya. Jika semua orang dari mulai pemimpin, bawahannya, bahkan masyarakat luas mempunyai sifat kepercayaan maka system kekuasaan bahkan pemerintahan akan berjalan dengan baik.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)  
2.2.2.4 Pemujaan
Dalam system pemujaan, seseorang atau sekelompok orang yang memegang kekuasaan mempunyai dasar pemujaan dari orang lain. Akibatnya segala tindakan penguasa dibenarkan atau setidak-tidaknya diangggap benar.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)
2.2.3 cara-cara mempertahankan kekuasaan
Cara-cara mempertahankan kekuasaan yaitu :
1.      Menghilangkan segenapa peraturan-peraturan lama, terutama dalam bidang politik, yang merugikan penguasa. Mengganti dengan peraturan baru yang menguntungkan penguasa.
2.      Mengadakan sistem-sistem kepercayaan (belief-system) yang akan memperkokoh kedudukan penguasa atau golongannya.
3.      Melaksanakan administrasi dan birokrasi yang baik.
4.      Mengadakan konsolidasi horizontal dan vertical.
(Soekanto, 1990:275)
2.2.4 Bentuk lapisan kekuasaan
Bentuk dan system kekuasaan selalu menyesuaikan diri pada masyarakat dengan adat-istiadat dan pola-pola perilakunya. Pada umumnya garis tegas antara yang berkuasa dengan yang dikuasai selalu ada sehingga menimbulkan lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan. Karena integrasi masyarakat dipertahankan oleh tata tertib social yang dijalankan oleh penguasa, maka masyarakat mengakui adanya lapisan kekuasaan tersebut. Adanya paktor pengikat antara warga-warga masyarakat adalah atas dasar gejala, bahwa ada yang memerintah ada yang diperintah.
Menurut maclever ada tiga pola umum system lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan, yaitu :
1.      Tipe kata
Tipe kata adalah system lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku. Tipe semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat berkasta. Garis pemisah antara masing-masing lapisan hampir tak mungkin ditembus.
Keterangan :
1.        Raja (penguasa)
2.        Bangsawan
3.        Orang-orang yang bekerja di pemerintah
4.        Pegawai rendahan
5.        Tukang-tukang dan pelayan
6.        Petani dan buruh tani
7.        Budak-budak
 

Pada puncak piramida paling atas, duduk penguasa tertinggi (misalnya maharaja dan raja) dengan likungannya, yang didukung oleh kaum bangsawan, tentara, dan para pendeta. Lapisan kedua terdiri dari para petani dan buruh tani yang kemudian diikuti dengan lapisan terendah dalam masyarakat yang terdiri dari para budak. 
2.      Tipe oligarkis
Keterangan :
1.        Raja (penguasa)
2.        Bangsawan (2,3,4)
5.      pegawai tinggi (sipil dan militer)
         6.      orang-orang kaya
         7.      pengusaha
         8.      pengacara
         9.      tukang dan pedagang
        10.     petani, buruh tani, dan budak.
 
Tipe oligarkis adalah tipe yang dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama pada kesempatan yang diberikan kepada para warga untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu. Kedudukan para warga pada tipe oligarkis masih didasarkan pada kelahiran ascribed status tetapi individu masih diberi kesempatan untuk naik lapisan.
 

Kaum industry, pedagangan dan keuangan memegang peran penting. Ada bermacam-macam cara di mana warga dari lapisan bawah naik tingkat lapisan dan ada juga ada kesempatan bagi warga lapisan menengah untuk menjadi penguasa.
Variasi tipe oligarkis dijumpai pada Negara-negara yang didasarkan pada aliran fasisme dan juga pada Negara-negara totaliter (misalnya soviet dan rusia). Bedanya adalah bahwa kekuasaan yang sebenarnya, berada di tangan partai politik yang mempunyai kekuasaan menentukan.
3.      Tipe demokratis
Keterangan :
1.        Pemimpin politik partai, orang-orang kaya, pemimpin organisasi besar
2.        Pejabat administrative, kelas-kelas atas dasar keahlian “leure class”  
3.        Ahli-ahli teknik, petani, dan pedagang
4.        Pekerja rendahan, dan petani rendahan
 
Tipe demokratis menunjukan kenyataan akan adanya garis pemisah antara lapisan yang yang sifatnya mobile. Kelahiran tidak menentukan  seseorang, yang terpenting adalah kemampuan dan kadang-kadang juga factor keberuntungan.
Gambaran pola piramida kekuasaan diatas merupakan tipe-tipe ideal atau tipe-tipe idaman. Di dalam kenyataan dan perwujudannya tidak jarang mengalami penyimpangan, disebabkan karena masyarakat yang mengalami perubahan social dan kebudayaan.
                                                                                                                    (soekanto, 1990:300)
2.2.5 Saluran kekuasaan
2.2.5.1 Saluran militer
Saluran militer merupakan saluran paksaan (coercion) serta kekuatan militer (military force) yang digunakan penguasa dalam menggunakan kekuasaannya. Tujuan utamanya yaitu untuk menimbulkan rasa takut dalam diri masyarakat, sehingga mereka tunduk kepada kemauan penguasa atau sekelompok orang yang dianggap sebagai penguasa. Hal ini banyak dijumpai pada Negara-negara totaliter.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)
2.2.5.2 Saluran ekonomi
Saluran ekonomi digunakan penguasa untuk untuk menguasai kehidupan masyarakat. Dengan menguasai ekonomi dan kehidupan rakyat, penguasa dapat melaksanakan pelaturan serta perintahnya dengan menerapakan sanksi bagi yang melanggarnya.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)


2.2.5.3 Saluran politik
Melalui saluran politik, penguasa dan pemerintah berusaha untuk menbuat pelaturan yang harus ditaati oleh masyarakat yaitu dengan meyakinkan atau memaksa masyarakat untuk menaati peraturan yang telah dibuat oleh badan yang berwenang dan sah.
                                                                                                (soekanto, 1990:300) 
2.2.5.4 Saluran tradisional
Saluran tradisional merupakan saluran yang menggunakan penyesuaian tradisi pemegang kekuasaan dengan tradisi yang terkenal di dalam suatu masyarakat yaitu dengan jalan menguji tradisi pemegang kekuasaan dengan tradisi yang sudah meresap dalam jiwa masyarakat, sehingga pelaksanaan kekuasaan dapat berjalan dengan lebih lancar. Saluran ini merupakan saluran yang paling disukai.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)
2.2.5.5 Saluran ideology
Para penguasa dalam masyarakat, biasanya mengemukakan serangkaian ajaran atau doktrin, yang bertujuan untuk menerangkan sekaligus memberi dasar bagi pelaksanaan kekuasaannya. Setiap penguasa akan berusaha untuk dapat menerangkan ideologinya dengan sebaik-baiknya sehingga institutionalized dan bahkan internalized dalam diri warga masyarakat.
                                                                                                (soekanto, 1990:300)    
2.3 wewenang
2.3.1 Bentuk-bentuk wewenang
2.3.1.1 Wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional (legal)
Wewenang karismatik merupakan wewenang yang didasarkan pada kharisma, yaitu suatu kemampuan khusus (wahyu, pulung) yang ada pada diri seseorang. Dasar  wewenang kharismatis bukanlah terletak pada suatu pelaturan (hukum), akan tetapi bersumber padadiri pribadi individu bersangkutan. Wewenang kharismatis tidak diatur oleh kaidah-kaidah, baik yang rasional maupun tradisional. Sifatnya cendrung irasional. Adakalanya charisma dapat hilang, karena masyarakat sendiri yang berubah dan mempunyai paham yang berbeda.
Wewenang tradisional dapat dimiliki oleh seseorang maupun sekelompok orang. Wewenang ini dimiliki oleh orang-orang yang menjadi anggota kelompok. Cirri-ciri utama wewenang tradisional yaitu :
1.      Adanya ketentuan-ketentuan tradisional yang mengikat penguasa yang mempunyai wewenang, serta orang lain yang ada dalam masyarakat.
2.      Adanya wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan seseorang yang hadir secara pribadi.
3.      Dapat bertindak secara bebas selama tidak ada pertentangan dengan ketentuan tradisional.
Wewenang rasional atau legal adalah wewenang yang disandarkan pada sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat. sistem hukum ini dipahamkan sebagai kaidah yang telah diakui, ditaati masyarakat, dan telah diperkuat oleh Negara.
                                                                                                (Soekanto, 1990:281)
2.3.1.2 Wewenang resmi dan tidak resmi
Wewenang yang berlaku dalam kelompok-kelompok kecil disebut wewenang tidak resmi karena bersifat spontan, situasional, dan factor saling kenal. Contohnya pada cirri seorang ayah dalam fungsinya sebagai kepala rumah tangga atau pada diri seorang yang sedang mengajar di kelas.
Wewenang resmi sifatnya sistematis, diperhitungkan dan rasional. Biasanya wewenang ini dapat dijumpai pada kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas dan bersifat tetap.
                                                                                                (Soekanto, 1990:285)
2.3.1.3 Wewenang pribadi dan territorial
Wewenang pribadi sangat tergantung pada solidaritas antara anggota-anggota kelompok, dan unsur kebersamaannya sangat berperan penting. Para individu dianggap lebih banyak memiliki kewajiban ketimbang hak. Struktur wewenang bersifat konsentris, yaitu dari satu titik pusat lalu meluas melalui lingkaran-lingkaran wewenang.
Wewenang territorial, yang berperan penting yaitu tempat tinggal. Pada kelompok teroterial unsure kebersamaan cendrung berkurang, karena desakan factor-faktor individualisme. Wewenang pribadi dan territorial sangat berbeda namun dalam kenyataan keduanya berdampingan.  
2.3.1.4 Wewenang terbatas dan menyeluruh
Wewenang terbatas merupakan wewenang yang tidak mencangkup semua sector dalam bidang kehidupan, namun terbatas pada salah satu sector bidang. Contohnya, seorang mentri dalam negri tidak mempunyai wewenang untuk mencampuri urusan yang yang menjadi urusan wewenang mentri luar negri.
Wewenang meenyeluruh berarti suatu wewenang yang tidak dibatasi oleh bidang-bidang kehidupan tertentu. Contohnya, bahwa setiap Negara mempunyai wewenang yang menyeluruh atau mutlak untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
2.4 Kepemimpinan (leadership)
2.4.1 Teori-teori kepemimpinan
Teori kepemimpinan digolongkan dalam empat kategori yaitu, pengaruh kekuasaan, bakat, perilaku, dan situasi.
2.4.1.1 Teori dengan pengaruh kekuasaan
Kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam kelompok atau organisasi (French dan Raven, 1959). Sumber kekuasaan itu terdiri dari tiga macam yaitu, kedudukan, kepribadian, dan politik.
2.4.1.1.1 Kekuasaan yang bersumber pada kedudukan
2.4.1.1.1.1 Kekuasaan formal atau legal
yang termasuk dalam kekuasaan formal atau legal adalah komandan tentara, kepala dinas, presiden, atau perdana mentri, dan yang mendapat kekuasaan karena ditunjuk atau diperkuat dengan peraturan atau perundangan yang resmi (French dan Raven, 1959).
2.4.1.1.1.2 Kendali atas sumber dan ganjaran
Kendali atas sumber ganjaran diantaranya majikan yang menggaji karyawannya, pemilik sawah yang mengupah buruhnya, dan kepala suku atau kepala kantor yang dapat memberi ganjaran kepada anggota (French dan Raven, 1959).
2.4.1.1.1.3 Kendali atas hukuman
Kendali atas ganjaran biasanya terkait dengan kendali atas hukuman. Namun, ada kepemimpinan yang sumbernya hanya kendali atas hukuman. Kepemimpinan jenis ini adalah kepemimpinan yang didasarkan pada rasa takut. Contonya anak kelas 1 SMP takut pada seniornya karena suka memukul sehingga kehendak seniornya itu selalu dituruti (French dan Raven, 1959).  
2.4.1.1.1.4 Kendali atas informasi
Informasi adalah ganjaran positif bagi yang memerlukannya. Oleh karena itu, yang menguasai informasi maka yang menjadi pemimpin. Orang yang paling tahu jalan diantara serombongan pendaki gunung yang tersesat akan menjadi pemimpin rombongan itu (Pettigrew, 1972)
2.4.1.1.1.5 Kendali ekologik (lingkungan)
Sumber kekuasaan ini dinamakan juga perekayasaan situasi (situation engineer). Contohnya adalah kendali atas penempatan jabatan (Oldham, 1975). Seorang atasan, manager, atau kepala bagian personalia mempunyai kekuasaan atas bawahannya karena ia boleh menentukan posisi anggotanya. Orang ini akan dianggap sebagai pemimpin. Contoh lain adalah kendali atas tata lingkungan (Cartwright, 1965). Kepala dinas tata kota berhak member izin bangunan. Orang ini menjadi pemimpin karena kendali atas penataan lingkungan.
2.4.1.1.2 Kekuasaan yang bersumber pada kepribadiaan
Kepemimpinan yang bersumber pada kekuasaan karena kepribadian yang berawal dari sifat-sifat pribadi.
2.4.1.1.2.1 Keahlian atau keterampilan
Di sebuah kapal atau pesawat terbang, mualim atau penerbang yang paling terampilah yang dijadikan nakhoda atau kapten. Pasien-pasien di rumah sakit menganggap dokter sebagai pemimpin atau panutan karena dokterlah yang dianggap paling ahli untuk menyembuhkan penyakit pasiennya (French dan Raven, 1959)
2.4.1.1.2.2 Persahabatan atau kesetiaan
Sifat dapat bergaul, setia kawan, serta setia kepada kelompok dapat menjadi sumber kekuasaan  untuk dianggap menjadi sebagai pemimpin. Contohnya, ibu Theresa, biarawati yang seluruh hidupnya dibaktikan untuk menolong anak-anak miskin di Bombay, dianggap sebagai pemimpin karena persahabatan dan kesetiaannya kepada anak-anak tersebut (French dan Raven, 1959).
2.4.1.1.2.3 Karisma
Ciri kepribadian yang menyebabkan timbulnya kewibawaan pribadi dari pemimpin, merupakan salah satu sumber kekuasaan dalam proses kepemimpinan (House, 1977). 
2.4.1.1.3 Kekuasaan yang bersumber pada politik
2.4.1.1.3.1 Kendali atas proses pembuatan keputusan
Dalam organisasi, ketua menentukanapakah suatu keputusan akan dibuat dan dilaksanakan atau tidak. Hakim memimpin siding karena ia mempunyai kendali atas jalannya sidang. Kepemimpinan seorang presiden juga bersumber pada kekuasaan politik karena sebuah undang-undang yang sudah disetujui parlement baru berlaku jika sudah mendapat tnda tangan presiden (Preffer dan Salanick, 1974).

2.4.1.1.3.2 Koalisi
Kepemimpinan atas dasar sumber kekuasaan politik ditentukan juga atas hak atau kewenangan untuk membuat kerja sama dengan kelompok lain. Contohnya pemilik perusahaan melakukan merger dengan perusahaan lain, dan presiden menyatakan perang atau damai dengan Negara lain (Stevenson, Pearce, dan Porter, 1985) 
2.4.1.1.3.3 Partisipasi
Pemimpin mengatur partisipasi anggotanya, siapa yang boleh berpartisipasi, dan dalam bentuk apa tiap anggota itu berpartisipasi (Preffer, 1981).
2.4.1.1.3.4 Institusionalisasi
Pemimpin agama menikahkan pasangan suami-istri dan menentukan ternentuknya keluarga baru, notaris dan hakim menetapkan berdirinya suatu yayasan atau perusahaan baru.
                                                                                                (Sarwono , 2001:45)
2.4.1.2 Teori bakat
Teori bakat dinamakan juga teori sifat (trait), teori karismatik, atau teori transformasi. Inti dari teori ini adalah bahwa kepemimpinan terjadi karena sifat-sifat atau bakat yang khas yang terdapat dalam diri pemimpin yang dapat diwujudkan dalam perilaku kepemimpinan. Sifat atau bakat itu dinamakan karisma atau wibawa.
2.4.1.2.1 Teori bakat menurut house
Delapan ciri pemimpin karismatik, yaitu :
1.      para pengikutnya yakin akan kebenaran ajaran atau kepercayaan pemimpin,
2.      ada persamaan kepercayaan antara pengikut dan pemimpin,
3.      pengikut mencintai pemimpinnya,
4.      pengikut menerima pemimpin sepenuhnya (tanpa bertanya lagi),
5.      pengikut dengan sukarela menaati pemimpin,
6.      keterlibatan secara emosional dari pengikut trhadap misi (tujuan) kelompoknya,
7.      peningkatan pencapaian tujuan oleh pengikut,
8.      keyakinan pengikut bahwa mereka mamapu menyumbang pada keberhasilan misi kelompok.
(House, 1977)
Menurut teori ini, seorang pemimpin yang berkarisma cendrung untuk mempunyai kebutuhan yang besar atas kekuasaan, sangat percaya diri, dan yakin akan ideologinya sendiri. Pemimpin ini akan selalu berusaha mempertahankan kepercayaan pengikutnya kepada dirinya. Ia akan melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan citra dirinya di mata pengikutnya. Contohnya bung karno, ia menggunakan semangat gotong royong untuk memompa semangat revolusioner rakyat Indonesia.
2.4.1.2.2 Teori bakat menurut baas
Factor-faktor bakat kepemimpinan menurut Baas, yaitu :
1.      factor antenseden (hal yang mendahului terjadinya seorang pemimpin)
2.      factor atribusi
3.      factor konsekuensi dari kepemimpinan.
(Baas, 1985)
Pemimpin karismatik  bukan hanya percaya pada keyakinan-keyakinannya sendiri (factor atribusi), melainkan juga merasa bahwa ia mempunyai tujuan-tujuan luhur abadi yang supernatural (lebih jauh dari alam nyata). Para pengikutnya, di sisi lain tidak hanya percaya  dan menghargai sang pemimpin, tetapi juga mengidolakannya dan memujanya sebagai manusia atau pahlawan yang berkekuatan ghaib atau tokoh spiritual (Baas, 1985).
 2.4.1.2.3 Teori bakat menurut conger dan kanungo
Kepemimpinan karismatik terutama bersifat atributif, yaitu karena adanya ciri-ciri tertentu dari pemimpin yang dipersepsikan oleh para pengikut berdasarkan pengamatan pengikut terhadap perilaku pemimpin (Conger dan Kanungo, 1987).
Tujuh ciri yang menyebabkan seorang pemimpin dinilai mempunyai karisma, yaitu :
1.      pandangan yang ekstrem, yang lain dari yang lain,
2.      berani menanggung risiko pribadi (ditangkap atau berkorban materiil) demi pandangannya, dan lebih mengutamakan kepentingan pengikut dari pada kepentingan pribadi,
3.      menggunakan strategi yang inkonvensional,
4.      kemampuan menilai sesuatu secara tepat,
5.      adanya kebimbangan pada pengikut karena adanya kerisis atau keadaan status quo yang tidak disukai oleh pengikut,
6.      kemampuan pemimpin untuk mengkomunikasikan kepercayaan dirinya kepada pengikutnya,
7.      kemampuan untuk memanfaatkan kemampuan pribadi untuk mendukung kepemimpinannya.
(Conger dan Kanungo, 1987)  
2.4.1.2.4 Teori transformasional dari Roberts
Pemimpin karismatik dapat juga terjadi dalam kelompok-kelompok yang sangat terorganisir (Robert, 1984). Dalam organisasi yang sangat teratur ini, pemimpin karismatik harus penuh energy dan mampu menggalang antusisme, menyalurkan emosi, dan mendorong orang-orang lain untuk bertindak.
Fungsi pemimpin di sini yaitu menjaga agar semangat para pengikut tetap tinggi dan membuat pengikut merasa bahwa mereka akan lebih baik jika bekerja sama. Dengan kata lain, pemimpin karismatik dalam kelompok yang terorganisasi berfungsi mentransformasikan energy para anggota kelompok menjadi suatu kekuatan bersama melalui sistem dan organisasi yang ada.
2.4.1.3 Teori perilaku
2.4.1.3.1 Teori perilaku menurut mintzberg
Sepuluh peran pemimpin menurut Mintzberg, yaitu :
a.       peran pemimpin yang berkaitan dengan perilaku hubungan antarpribadi, yaitu :
1.      peran pemimpin : pemimpin mengarahkan dan member pedoman kepada pengikut.
2.      Peran penghubung : pemimpin meneruskan pesan dari atasan kepada bawahan dan menyampaikan pesan bawahan kepada atasan. Pemimpin harus dapat menyambungkan gagasan atau perasaan dari sekelompok anggota ke anggota yang lain.
3.      Peran panutan (figurehead) : pemimpin harus dapat menjadi contoh bagi bawahannya dan dapat mencerminkan ciri-ciri kelompok kepada pihak luar melalui perilaku dan penampilan dirinya.
b.      Peran pemimpin yang berkaitan dengan pemprosesan informasi, yaitu :
4.      peran pemantauan : pemimpin harus memantau berbagai informasi yang berkaitan       dengan proses dan tugas kelompok (kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan kendala)
5.      peran penyebaran informasi : informasi yang diperoleh pemimpin harus disebarluaskan kepada anggota sehingga setiap anggota mendapatkan informasi itu.
6.      Peran juru bicara : kepada pihak luar pemimpin harus berperan sebagai orang yang member informasi mengenai kelompok.
c.       Peran pemimpin yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, yaitu :
7.      Peran wiraswasta : pemimpin harus mampu mempertahankan eksistensi kelompok dan juga mengembangkannya dengan swadaya.
8.      Peran penyesuaian gangguan : jika ada gangguan, pemimpin harus mampu menanganinya dengan baik.
9.      Peran pengalokasian sumber : keberadaan dan perkembangan kelompok selalu bergantung kepada sumber-sumber (resources) seperti : sumber daya, sumber dana, dan sumber tenaga manusia.
10.  Peran negoisasi : pemimpin juga berperan sebagai perunding, baik dengan pihak luar maupun dengan antar anggotanya sendiri.
(MInzberg, 1973)
2.4.1.3.2 Teori perilaku menurut page
Sembilan kewajiban dan tanggung jawab pemimpin dalam organisasi, yaitu :
1.      Penyelian (superpising) : Meningkatkan hasil kerja bawahan dengan cara bekerja sama dengan anggota untung menganalisis kelemahan dan kekuatan mereka, serta mengembangkan keterampilan anggota.
2.      Merencanakan dan mengorganisasi
3.      Pembuatan keputusan
4.      Memantau indicator : Memantau keadaan, baik internal maupun eksternal
5.      Pengendalian : mengembangkan jadwal
6.      Perwakilan : menjawab pertanyaan-pertanyaan dan berespon terhadap keluhan dari luar
7.      Koordinasi : mengkoordinasi dengan kelompok dari luar maupun kelompok sendiri.
8.      Konsultasi
9.      Administrasi.
(Page, 1987)
2.4.1.4 Teori situsional
Teori situsional berintikan hubungan antara perilaku pemimpin dengan situasi di lingkungan pemimpin itu.
2.4.1.4.1 Perilaku pemimpin sebagai akibat situasi
2.4.1.4.1.1 Teori peran (role theory)
Perilaku pemimpin disesuaikan pada perannya dalam kelompok, misalnya peran seorang komandan berbeda dari seorang ayah sehingga perilaku seorang pemimpin ketika ia berperan sebagai komandan berbeda dari perilakunya ketika ia sedang menjadi ayah (Merton, 1957)
2.4.1.4.1.2 Teori harapan (expentancy theory)
Perilaku pemimpin ditentukan oleh harapan kelompoknya, misalnya seorang ayah diharapkan untuk mencari nafkah bagi keluarganya, sedangkan seorang ayah yang lain diharapakan untuk memberi pendidikan kepada anak-anaknya (Nebecker dan Mitchell, 1974).
2.4.1.4.1.3 Teori adaptif-reaktif (adaptive-reactive theory)
Perilaku pemimpin tidak ditentukan oleh satu factor tertentu, tetapi oleh interaksi antara beberapa factor dalam suatu situasi. Dengan kata lain, pemimpin setiap kali menyesuaikan perilakunya pada perubahan situasi. Contohnya perilaku komandan tentara pada saat perang berbeda pada saat damai (Osborne dan Hunt, 1975).
2.4.1.4.1.4 Teori pilihan kendala (constraints choices model)
Perilaku pemimpin disesuaikan dengan kendala-kendala yang ada. Ia akan memilih perilaku yang kendalanya terkecil. Misalnya, jika komandan tentara melihat bahwa dengan menyerbu musuh ia dapat merebut wilayah muusuh, maka ia dan anggotanya akan segera menyerbu (Stewart, 1967).
2.4.1.4.2 Perilaku pemimpin sebagai penyebab situasi
Dalam teori ini, pemimpin tidak dipandang sebagai pihak yang bereaksi terhadap situasi semata-mata, tetapi dipandang sebagai piahak yang lebih aktif, yang mengambil inisiatif dan yang memberi dampak pada situasi. Teori ini juga dinamakan teori model kontingensi karena pemimpin memanfaatkan situasi untuk mencapai tujuan kepemimpinannya.
2.4.1.4.2.1 Teori house dan Mitchell
Empat tipe perilaku pemimpin :
1.      Suportif : mendukung, membangkitkan semangat anggotanya,
2.      Direktif : mengarahkan, dan member petunjuk,
3.      Partisifatif : ikut terlibat dalam kegiatan kelompok, banyak berkonsultasi dengan anggota
4.      Orientasi pemimpin : tujuannya adalah mencapai hasil yang lebih baik.
(House dan Mitchell, 1974)
2.4.1.4.2.2 Teori harsey dan Blanchard
Dua tipe perilaku pemimpin :
1.      Yang lebih mementingkan tugas (task behavior) : pemimpin tidak mahu tahu, pokonya tugas harus selesai. Anak buah harus melaksanakan tugasnya masing-masing.
2.      Yang lebih mementingkan hubungan (relationship behavior) : pemimpin lebih mementingkan hubungan yang baik dengan anggota kelompoknya.
(Kerr dan Blanchard, 1982)
2.4.1.4.2.3 Teori kerr dan jernier
Dua macam variabel situasi, yaitu :
1.      Yang mendukung efektivitas kepemimpinan (substitutes) : anak buah yang terampil, struktur tugas yang jelas, dan tim yang kompak.
2.      Yang menghambat efektifitas kepemimpinan (neutralizer) : anak buah yang acuh tak acuh, dan pemimpin yang tak punya cukup wewenang.
(Kerr dan Jernier, 1978)
Untuk mengatasi dua variabel situasi diatas, digunakan dua jenis pemimpin, yaitu :
1.      Tipe instrumental, yaitu yang memprakarsai, merangsang, dan mengawali perubahan.
2.      Tipe sufortif, yaitu yang melanjutkan dan mempertahankan keadaan.
(Kerr dan Jernier, 1978)


2.4.1.4.2.4 Teori vroom dan yetton
Perilaku pembuatan keputusan pemimpin mempengaruhi kualitas pembuatan keputusan bawahan dan penerimaan bawahan terhadap keputusan atasan.
Tiga macam prosedur pembuatan keputusan, yaitu :
1.      Otokratik : pemimpin membuat keputusannya sendiri dan meminta anggota kelompoknya untuk menaati keputusan tersebut.
2.      Konsultasi : pemimpin berkonsultasi dulu dengan anggotanya sebelum membuat keputusan.
3.      Keputusan bersama : pemimpin dan anggota bersama-sama membuat keputusan.
(Vroom dan Yetton, 1973)
2.4.1.4.2.5 Teori fiedler dan sarwono
Efektifitas kepemimpinan tergantung pada persepsi pemimpin terhadap anggota kelompoknya. Persepsi pemimpin terhadap anggotanya diukur berdasarkan pada pandangannya terhadapa anggotanya yang lemah, paling rendah prestasinya, atau paling tidak disukai (Fieder dan sarwono, 1995).
2.4.2 Perkembangan kepemimpinan dan sifat-sifat seorang pemimpin
Kepemimpinan merupakan hasil organisasi social yang telah terbentuk atau sebagai hasil dinamika interaksi social. Sejak mulai terbantuknya suatu kelompok social, seseorang atau beberapa orang diantara yang lainnya melakukan peranan yang sangat aktif, sehingga orang itu dipercaya memimpin kelompok itu. Maka munculah istilah kepemimpinan.
Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok . Sifat-sifat yang diisyaratkan bagi seorang pemimpin tidaklah sama pada setiap masyarakat. di kalangan masyarakat Indonesia, sifat-sifat yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, antara lain dapat ditemukan dalam warisan tradisional Indonesia, misalnya “Asta Brata” yang merupakan kumpulan seloka dalam Ramayana, yang memuat ajaran Sri Rama kepada Brahata, yaitu yaitu adiknya dari lain ibu.
Menurut Asta Brata, pada diri seorang raja terkumpul sifat-sifat dari delapan Dewa yang masing-masing mempunyai kepribadian sendiri. Kedelapan sifat dan kepribadian itulah yang harus dijalankan oleh seorang raja (pemimpin) yang baik. Asta Brata terdiri dari sepuluh seloka, dimana seloka yang pertama dan yang ke dua, berisi :
1.      Bahwa Asta Brata merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
2.   Asta Brata memberin kepastian bahwa seorang pemimpin yang menjalankannya akan mempunyai kekuasaan dan kewibawaan sehingga akan dapat menggerakan bawahannya. Keadaan demikian dapat menghindari terjadinya krisis kepemimpinan. Krisis kepemimpinan akan terjadi apabila pemimpin tidak berani mengambil keputusan, bertindak, dan tidak jujur.
Menurut Asta Brata, kepemimpinan yang akan berhasil, harus memenuhi syarat-syarat, yaitu :
1.      Indra-brata, yang member kesenangan dalam jasmani.
2.      Yama-brata, yang menunjuk pada keahlian dan kepastian hukum.
3.      Surya-brata, yang menggerakan bawahan dengan mengajak mereka untuk bekerja persuasiaon.
4.      Caci-brata, yang member kesenangan rohaniyah.
5.      Bayu-brata, yang menunjukan keteguhan kepemimpinan dan rasa tidak segan-segan yang turut merasakan kesukaran pengikutnya.
6.      Dhana-brata, menjukan pada suatu sikap yang patut dihormati.
7.      Paca-brata, yang menunjukan kelabihan di dalam ilmu pengetahuan, kepandaian, dan ketermpilan.
8.      Agni-brata, yaitu sifat memberikan semangat pada anak buah.
                                                                                                (Soekanto, 1990:289)
2.4.3 Kepemimpinan menurut ajaran tradisional
Ajaran-ajaran tradisional seperti di jawa, menggambarkan seorang pemimpin, yaitu sebagai berikut :
1.      Menurut watak dan kecakapannya,  seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin di depan, di tengah, dan di belakang (front leader, social leader, dan rear leader).
2.      Seorang pamimpin di depan (front leader) harus memiliki idealisme yang kuat, kedudukan, serta harus dapat menjelaskan cita-citanya kepada masyarakat dengan sejelas mungkin sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksan dengan baik.
3.      Pemimpin di tengah, harus selalu mengamati masyarakat, serta dapat merasakan suka-duka yang dialami masyarakat sehingga suatu sistem yang kurang diminati masyarakat dapat dirubah.
4.      Pemimpin di belakang, harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan masyarakat. Dia berkewajiban untuk menjaga agar perkembangan masyarakat tidak menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai yang telah berlaku di masyarakat.
(Soekanto, 1990:292)
2.4.4 Sandaran-sandaran kepemimpinan dan kepemimpinan yang dianggap efektif
Kepemimpinan seseorang (pemimpin) harus mempunyai sandaran-sandaran kemasyarakatan atau social basis. Pertama-tama kepemimpinan erat hubungannya dengan susunan masyarakat. kekuatan kepemimpinan juga ditentukan oleh suatu lapangan kehidupan masyarakat yang pada suatu saat mendapat perhatian khusus dari masyarakat yang disebut cultural focus. cultural focus dapat berpindah-pindah, misalnya saat ini di lapangan politik, kemudian berpalih pada lapangan politik, dan seterusnya. Maka si pemimpin pun harus mampu mengalihkan titik berat kepemimpinannya pada cultural focus yang baru.
                                                                                                (Soekanto, 1990:293)   
2.4.5 Tugas seorang pemimpin
Secara sosiologis, tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah :
1.      Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan bagi pengikut-pengikutnya. Dengan adanya kerangka pokok, maka dapat disusun suatu sekala prioritas mengenai keputusan yang perlu diambil untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi.
2.      Mengawasi, mengendalikan, serta menyalurkan perilaku warga masyarakat yang dipimpinnya.
3.      Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpin.
(Soekanto, 1990:294)
2.4.6 Metode kepemimpinan  
Suatu kepemimpinan (leadership) dapat dilaksanakan dengan berbagai cara (metode). Metode itu dikelompokan menjadi :
1.      Metode otoriter, yang cirri-cirinya adalah :
1.      Pemimpin menentukan segala kegiatan kelompok secara sepihak.
2.      Pengikut sama sekali tidak diajak untuk ikut serta merumuskan tujuan kelompok dan cara-cara untuk mencapai tujuan.
3.      Pemimpin terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak ikut dalam proses interaksi di dalam kelompok tersebut.
2.      Metode demokratis, yang cirri-cirinya adalah :
1.      Secara musyawarah dan mufakat pemimpin mengajak warga atau kelompok untuk ikut serta merumuskan tujuan-tujuan yang harus dicapai kelompok, serta cara-cara untuk mencapai tujuan.
2.      Pemimpin secara aktif memberikan saran dan petunjuk-petunjuk.
3.      Ada kritik positif, baik dari pemimpin maupun kelompok-kelompok.
4.      Pemimpin secara aktif ikut berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.
3.      Metode bebas, yang ciri-cirinya :
1.      Pemimpin menjalankan perannya secara pasif.
2.      Penentuan tujuan yang akan dicapai kelompok sepenuhnya diserahkan kepada kelompok.
3.      Pemimpin berada di tengah-tengah kelompok, namun dia hanya berperan sebagai penonton.
(Soekanto, 1990:295) 











BAB III
KESIMPULAN
3.1  Kesimpulan
Kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat penting dalam kehidupan kelompok social di masyarakat.
kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya di dalam suatu hubungan social yang ada termasuk dengan kekuatan atau tanpa mengiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.
wewenang merupaka hak jabatan yang sah untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan dan grup.
Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu.
Sumber kekuasaan terdiri dari harta benda, status, wewenang legal, charisma, dan pendidikan. Selain itu unsure kekuasaan juga berpengaruh yaitu meliputi: rasa takut, rasa cinta, kepercayaan, dan pemujaan. Lapisan kekuasaan yaitu tipe kata, tipe oligarkis, dan tipe demokratis.
Bentuk wewenang terdiri dari:
1.      Wewenang karena charisma, tradisional, dan rasional.
2.      Wewenang resmi dan tidak resmi.
3.      Wewenang pribadi dan territorial.
4.      Wewenang terbatas dan menyeluruh.
Teori kepemimpinan :
1.      Teori pengaruh kekuasaan
2.      Bersumber pada kedudukan
3.      Kekuasaan politik.
Metode kepemimpinan terdiri dari metode otoriter, metode demokratis, metode bebas.

DAFTAR PUSTAKA :
1.      soekanto, 1990. SOSIOLOGI SUATU PENGANTAR. Rajawali pers : Jakarta.
2.      Abdulsyani, 2007. SOSIOLOGI “skematika, teori, dan terapan”. Bumi aksara : Jakarta.
3.      Wirawan. S. sarwono, 2001. PSIKOLOGI SOSIAL. Balai pustaka : Jakarta.























1 komentar: